menepi

12/05/2009

terdiam. menggarisbawahi cerita yang berkecamuk dalam jiwa. menukil sketsa dalam pergulatan diorama. angkasa bergumam menulisi buku harian ketakutan dan kecemasan. mendadaskan langkah kering di antara taut rindu dan gamang. ini bukan kecewa, melainkan berusaha mengupas telatak di mana kepal ini harus terpelihara sementara tersudut di antara keharusan mencuci diri dalam keindahan semestinya.

bunga kehidupan. naskah ini tak pernah menjadi usang oleh manik senja. wajah yang memerah. kalbu yang membiru. dan tetirah yang membiarkan kita berjibaku lalu saling memeluk dalam kebutaan warna merah.

dan hinggaplah kini di ujung kesendirian. membiarkan kupu-kupu menyempurnakan kemilau sayapnya yang tak pernah kudapatkan dari sisa-sisa senandungku. pada hujan. hingga kutahu keanggunanmu menyusun setaman rangkai adalah keindahan perumpamaan.

usah kau biarkan letihmu mengeras, karena tulang rusuk ini masih kupelihara. aku akan kembali dengan seusung haru lalu kita tak perlu lagi berjibaku.

| ditulis ketika hujan tak lagi memaku jalanan.

*simpuh

11/18/2009

luka ini menulisi kematian. dalam jarak yang dekat dan kekal. duri yang menjajaki pesona diri. dan dunia tak akan membiarkanmu bersimpuh di lautan ratap isak. berhentilah bersuara. hingga kau tahu, suaramu adalah timbunan kebenaran yang bertalu-talu menikam kebiadaban lidah. sungguh, kita melulu hanya bisa menagih janji untuk keserakahan yang lahir dari hujan kata-kata.

lalu seberapa hitam kesan ini terbujur pada nilai bahagia? Tuhan selalu berkata indah dalam setiap duka. dan tangan takdir menjela-jela. memeras keringat dan debar hiatus yang membeku. jangan kau jadikan air mata sebagai pembenaran atas segala muasal khilafmu.

kau tak perlu menjejali peradaban dengan senandungmu yang ngilu. keras hati bukanlah halusinasi. dosa yang mengeras bukanlah anonimitas. berjibakulah dengan dirimu sendiri. karena itulah yang lebih pantas kau lukiskan di puing sejarah. dan bukan air mata.

pintu

11/12/2009

sesak. sesal.
kesal. kesan.
benam. benar.

aku benci kesendirian ini. cabutlah perasaan itu agar tak ada lagi yang kecewa. karenaku.

menangisi keceriaan sementara ceriaku menangis. maaf….