*simpuh
11/18/2009
luka ini menulisi kematian. dalam jarak yang dekat dan kekal. duri yang menjajaki pesona diri. dan dunia tak akan membiarkanmu bersimpuh di lautan ratap isak. berhentilah bersuara. hingga kau tahu, suaramu adalah timbunan kebenaran yang bertalu-talu menikam kebiadaban lidah. sungguh, kita melulu hanya bisa menagih janji untuk keserakahan yang lahir dari hujan kata-kata.
lalu seberapa hitam kesan ini terbujur pada nilai bahagia? Tuhan selalu berkata indah dalam setiap duka. dan tangan takdir menjela-jela. memeras keringat dan debar hiatus yang membeku. jangan kau jadikan air mata sebagai pembenaran atas segala muasal khilafmu.
kau tak perlu menjejali peradaban dengan senandungmu yang ngilu. keras hati bukanlah halusinasi. dosa yang mengeras bukanlah anonimitas. berjibakulah dengan dirimu sendiri. karena itulah yang lebih pantas kau lukiskan di puing sejarah. dan bukan air mata.
pintu
11/12/2009
sesak. sesal.
kesal. kesan.
benam. benar.
aku benci kesendirian ini. cabutlah perasaan itu agar tak ada lagi yang kecewa. karenaku.
menangisi keceriaan sementara ceriaku menangis. maaf….
ruam
08/27/2009
di sinilah. jalan itu terasa berliku. kau tentu lebih tahu seberapa dalam lubang yang kau gali. dan kau jejalkan selongsong tubuhku sebagai alasan kesalahanmu menulisi buku cahaya. dendammu pada sejarah selalu mengikis sedikit demi sedikit garis wajah yang dulu kau ukir sebagai kebanggaanmu.
ini bukan kesulitan, kawan. ini adalah semua upayamu membunuh bayang-bayang yang tumbuh lewat kelenjar beringasmu. kau lupa itu? hitam tak selalu suram. putih tak selalu jernih. kau ingat seseorang sahabat kerap membisikimu perihal kebutaanmu? bahwa hidup tak sekedar pagelaran warna-warna.
tak usahlah kau terus tersudut oleh duka yang melulu kau ciptakan sendiri. kau. aku. kalian. percaya. keputusasaan telah menghidupimu bertahun-tahun lamanya. hingga kau lupa di mana terakhir kali kau lipat harapanmu.
kau tak perlu menjadi liar untuk diperhatikan. tak perlu menghardik untuk dicintai. dan tak perlu menghujat untuk sekerat tepuk tangan. tak ada yang mampu menertawakanmu selain tawamu sendiri yang menggelegar pasrah.
ya. hanya kau sendiri yang tahu seberapa dalam luka yang kau gali.
aku hanya mampu menatap kesedihan dari air mata yang meleleh di sudut matamu. tapi aku tidak akan pernah mampu menyelami seberapa berat penderitaanmu dari air mata itu.
bismillah…
tergugu
08/08/2009
kentara sekali beban ini mengubah pandanganku pada kesederhanaan yang selalu tersangkut keyakinan tentang sebuah ketidakapaapaan. di sini –aku berdiri tanpa isyarat– membuka jendela langit dan menyibakkan untukmu selubung biru yang beranjak mengeras.
tanpa kaki –yang terlanjur tertambat di akar pinus tempat kubasuh luka-luka yang menganga–, perjamuan doa-doa –di mana kerap menjejalkan tawa sebagai pelengkap tarian katakata yang sering kau sebut bedebah–
detik ini. –rindu ini tak bisa kutukar dengan diam– biar kutuliskan geloramu pada kilau cahaya yang membatu. dan bias warnanya memberi terang jiwa-jiwa yang tegak namun kerontang. lalu sepertiga lukaku menjadi kebisingan yang mencelupkan angan-angan untuk nuansa kelam yang beringas namun tak henti meradang.
hilanglah sesumbar narasi. karena kita adalah celah rapuh yang terdedikasi.
ransum
06/12/2009
sesal itu selalu terkapar di reruntuhan bangunan prediksi. ketika tangan dan hati tak lagi saling berbagi. dan kenyataan berdiri menjadi kekuatan imaji. menopang nyawa yang tertatih di lingkaran halusinasi. lalu persimpangan religi menjadi ransum lezat untuk diri yang mengaku berbudi.
jengah itu nyanyian sumbar tentang jiwa. yang bergairah di pucuk hasrat dan terpendam dalam lubuk dahaga. sesuatu persepsi menuntaskan kejelitaan pada ufuk malam yang tak berrongga. meski gentar tak bisa diduga. meski hitam tak mampu memberi jeda.
dimanakah kita? lorong waktu yang menyublim dalam selongsong rahim dunia. lahir dan membesar lalu menaburkan kebersahajaan warna. meski alam memaksakan nafsu di setiap cakrawala. kita hanya mampu tertawa. menertawakan airmata.
ah. sungguh elok dunia hanya matamata. tempat kita dijamu dengan nikmat tawar dan pesona surga. lalu kita ditelikung tanpa abaaba. dan kemudian ketakberdayaan mengunci mulut kita.
ketika tangan dan kaki berkata. robbana..
_rs
*kesaksian
04/08/2009
hingga kesadaran itu muncul, aku masih terlelap di serumpun bangku tunggu. menelisik ruang rasio untuk menyelamatkan sedikit harapanku yang mendadak terhempas di kelamnya warna malam.
mungkin hanya riuh bahasa yang tumbuh. ketika warna pelangi tak lagi di hati.
*denah hati
02/23/2009
dan hati itu peta diri, kawan. tempat mengacungkan telunjuk arah dalam keheningan akal busuk kata-kata. tempat menumpahkan geliat kotor ransum pikiran. betapa bebalnya kita mengungsikan hati ketika pikiran menjamah kolong bahasa…
*musikalitas hati
02/19/2009
rasakanlah ketika bel hati berdentang. memintal lirih di belahan hasrat yang berkejap-kejap. dan mengajakmu melantunkan nyanyian kehidupan. tak ada yang salah di sana. karena hati adalah brankas jiwa yang tak terkoyak nafsu zaman yang bedebah…